April 12, 2020

Dua Kunci Kerja atau Belajar Secara Efektif

idebeasiswa yoseph leonardo samodra 2020

Pola Dasar

Kerja atau belajar polanya hanya berulang-ulang dari dua hal ini:

  • Seleksi
  • Aksi

Jadi kita akan memilih mengerjakan atau mempelajari apa, lalu kita mengerjakan atau mempelajarinya. Udah. Dari sejak awal penciptaan sampai nanti jika ada pemusnahan ya itu aja. Memilih dan bertindak.

Seleksi juga mencakup memilih antara mau bekerja atau tidak, mau belajar atau tidak. Niat untuk bertindak adalah salah satu hasil dari fase seleksi, eksekusi dari niat tersebut adalah bagian dari fase aksi.

Baca juga: Kuliah FK di Jawa Tengah

Bisa terjadi apa yang dilakukan adalah hal yang jauh berbeda dari apa yang diinginkan/direncanakan. Wajar saja, karena hidup kita jarang linear, pasti ada unsur kejutan. Setiap melakukan sesuatu, tuntas ataupun on going, kita pasti akan masuk kembali ke proses seleksi, baik melalui monitoring, evaluasi, atau langsung ganti topik dan melakukan seleksi untuk kegiatan yang sama sekali berbeda dari kegiatan terakhir kita.

Berikut ini akan dipaparkan 2 hal penting yang akan sangat bermanfaat jika kita kuasai:

Skala Prioritas

Pilihan akan selalu tak terbatas, meskipun selalu ada 1 pilihan abadi, yaitu tidak melakukan apapun. Ya, tidak ngapa-ngapain pun adalah pilihan. Yang membedakan dari pilihan-pilihan yang ada adalah efeknya terhadap hidup kita. Pilihan yang satu tentu lebih unggul pada bidang tertentu jika dibandingkan dengan pilihan yang lain.

Buatlah prediksi yang terukur untuk tiap-tiap pilihan yang ada. Pertimbangkan sumber daya yang dibutuhkan untuk meraih hasil yang diprediksikan. Biasakan memiih yang paling menguntungkan. Jangan sampai melakukan sesuatu hanya karena ikut-ikutan.

Waktu istirahat maupun bermain dan tidak mengerjakan proyek utama dalam pekerjaan dan pembelajaran kita bukanlah hal yang salah. Kita malah wajib menyediakan waktu untuk istirahat dan melakukan sesuatu yang lain dari yang menjadi target utama kita karena kita sebenarnya akan jauh lebih efisien dalam bekerja ketika semuanya dalam porsinya yang pas. Dalam menentukan kapan dan bagaimana harus beristirahat dan bermain tentu perlu pembiasaan untuk mengamati secara aktif. Tentukan skala prioritas juga untuk dapat memperoleh manfaat terbaik dari istirahat dan waktu bermain anda.

Automasi

Semua manusia tidak bisa mengerjakan semuanya sendirian. Bahkan jantung pun mulai bekerja dan akan terus bekerja nyaris tanpa kontrol dari manusia pemilik jantung tersebut. Jantung adalah salah satu bentuk automasi dalam tubuh kita. Kita bisa fokus kerjakan hal lain karena kita tidak perlu repot-repot mengatur kapan jantung kita harus berdenyut. Kita cukup bisa mengandalkan sistem saraf otonom yang sudah diberikan Tuhan dalam diri kita.

Bentuk parsial dari automasi adalah dengan kolaborasi. Dengan bekerja sama atau bergotong royong dengan orang lain maka pekerjaan bisa cepat selesai. Meskipun kadang malah jadi lebih boros sumber daya dan malah lama selesainya jika dibandingkan ketika kerja sendirian. Demikianlah kalau bekerja dengan manusia.

Bentuk yang lebih baik dari automasi yang melibatkan manusia adalah delegasi. Butuh kepercayaan tinggi untuk dapat menyerahkan suatu pekerjaan untuk dikerjakan orang lain. Kita bisa mengerjakan bagian lain atau proyek lain, namun umumnya nanti tetap perlu melakukan kontrol sesekali terkait proyek yang kita delegasikan.

Yang paling menyenangkan adalah ketika kita bisa benar-benar mendapatkan hasil pekerjaan atau hasil belajar tanpa kita harus terlibat sedikitpun selain memberikan perintah yang tepat. Mesin, robot, dan software canggih bisa melakukan banyak hal dengan konsistensi yang baik, tanpa mengeluh meski pekerjaannya monoton. Kontrol hasil akhirnya sesekali perlu dilakukan, bahkan sistem automasi yang canggih akan berusaha memperbaiki sendiri jika timbul masalah, minimal memberikan notifikasi jika ada masalah dalam automasi yang sedang berjalan.

Upayakan mendapatkan manfaat dari automasi semaksimal mungkin, bahkan tidak hanya di fase aksi. Secara teori sangat mungkin untuk menyerahkan fase seleksi pada kecerdasan buatan. Hal ini menimbulkan ketakutan bahwa ciptaan manusia akan mengambil alih nyaris semua pekerjaan manusia. Bahkan bisa muncul kekhawatiran yang masuk akal ketika nantinya kecerdasan buatan sanggup memunculkan sendiri niat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu tanpa perintah dari manusia. Bijaklah memanfaatkan teknologi, jadilah majikan yang baik.

idebeasiswa yoseph leonardo samodra 2020

error: Content is protected !!