Kuliah Pakai Celana Pendek

Saya memberanikan diri untuk ke kampus dengan bercelana pendek. Perlu keberanian ekstra meskipun sudah berulang kali disampaikan bahwa memang boleh ke kampus bercelana pendek. Syarat utama dalam berpakaian ke kampus adalah bersepatu, meskipun konon beberapa orang sukses masuk area kampus bahkan masuk kelas dengan mengenakan sandal.

Kalau berkaos tanpa kerah udah lumayan banyak temannya, sehingga dari awal saya hanya merasa sedikit kikuk berkaos tanpa kerah ke kampus. Bahkan sempat terpikir untuk ke kampus dengan mengenakan kemeja batik lengan pendek, seperti kebiasaan di kampus asal. Namun niat itu saya urungkan karena bakal menjadi pusat perhatian, gara-gara salah kostum. Tipikal pakaian warga kampus di musim gugur menuju musim dingin ini adalah: celana panjang (jeans atau training) dan kaos oblong tanpa kerah. Ada beberapa yang pakai celana kain, kaos berkerah, atau kemeja kantoran.

Jika cuaca lebih panas, dengan puncaknya di musim panas, maka bakal dijumpai kaos dan celana pendek sebagai mayoritas pakaian warga kampus. Dosen pun ada yang gemar bercelana pendek dan berkaos tanpa kerah, bahkan ketika beliau mengajar. Jadi memang pakaian tidak bisa dijadikan patokan apa-apa di tempat ini.

Cukup menantang pemahaman dalam diri saya bahwa di lingkungan kampus harus berpakaian rapi dan sopan, dengan standar yang kaku dan mungkin tidak berdasar. Apakah mengenakan kaos oblong dan jeans selutut tergolong tidak rapi dan tidak sopan? Tergantung bagaimana anda dididik atau aturan apa yang berlaku di institusi anda.

Kesopanan adalah suatu relativitas dengan banyak variabel. Mungkin untuk beberapa kesempatan kita memang wajib mengenakan pakaian tertentu, terutama untuk menghormati pihak tertentu. Tetapi, hei, bukankah itu juga hanyalah budaya? Yang tumbuh karena dibiasakan oleh mereka yang lebih dulu berwenang atau menjadi mayoritas? Bagaimana jika kitalah yang seharusnya menjadi standar untuk diri kita sendiri?

Kadang kita tidak sadar menjadi hamba dari pikiran kolektif (atau setidaknya demikian menurut pemikiran kita). Kadang kita merasa menjadi bagian masyarakat yang baik dengan mematuhi dan memelihara berbagai adat dan budaya yang mungkin kita tak pahami ujung pangkalnya. Kadang kita bersepakat dengan manusia lainnya untuk merumuskan apa yang baik dan apa yang jahat, hanya bertumpu pada apa yang nyaman dan tidak nyaman bagi kita.

Perlu kita sejenak menyadari kembali bahwa kita adalah manusia merdeka. Betapa terkungkungnya kita jika dalam berpakaian pun kita harus tunduk pada isi kepala orang lain. Kenapa kita tidak mendasarkan pilihan pakaian kita dengan apa yang kita nikmati atau apa yang kita banggakan? Takutkah kita terhadap penilaian orang lain, yang bahkan menyumbang satu dolar pun tidak untuk membelikan baju yang “pantas” dan “seharusnya” kita pakai?

Ingatlah bahwa esensi berpakaian adalah pada menutupi kemaluan. Kemaluan kita terbukti kadang melebihi alat kelamin kita. Kadang kita memiliki keterbatasan fisik yang membuat kita malu jika diketahui orang lain, sehingga kita dengan sengaja menutupinya dengan pakaian yang sesuai. Ini masih bisa ditoleransi. Toh memang banyak orang yang belum bisa berespon manusiawi ketika melihat kekurangan fisik manusia lainnya.

Kadang kemaluan kita terletak pada harga baju yang kita pakai. Atau pada merk dan kesan yang ditimbulkannya. Ada pula yang kemaluannya terletak pada desain, warna, atau edisi pakaian yang dikenakannya. Seolah-olah ketika memakai baju yang kembar dengan orang lain di suatu pesta menjadi aib luar biasa. Atau ketika memakai sepatu edisi pasaran membuatnya wajib menyembunyikannya di balik tas atau barang lain agar tak tampak oleh sepasang sepatu edisi terbatas keluaran terbaru.

Ah, tulisan ini jadi meluas ke pakaian alias sandang yang konon adalah kebutuhan primer bersama dengan pangan dan papan. Ada sekelompok manusia yang rela menobatkan sandang sebagai kebutuhan primer satu-satunya, sedangkan papan dan pangan dijadikan kebutuhan sekunder atau lebih rendah lagi. Jangan menjadi kelompok itu.

Berpakaianlah yang wajar sesuai nilai yang kamu anut. Seaneh apapun pilihan bajumu menurut orang lain, kalau kamu nyaman dan tidak merasa bersalah maka pakailah dengan penuh ucapan syukur. Bagaimana kita memakai pakaian akan membuat kita nampak pas atau tidak dengan pakaian kita. Ingatlah bahwa esensi pakai baju adalah menutupi kemaluan. Jika kamu malu dengan baju yang kamu pakai, gantilah. Siapkan dulu mentalmu. Ketika dirimu sudah siap, pakailah apapun yang kamu mau, jadilah trend-setter jika perlu.

 

Taipei, Nov 17, 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!